Selasa, 09 Desember 2014

Tulisan Ketika Sakit

Tulisan Ketika Sakit

Malam itu aku mendapati dadaku sakit kali ke tiga di beberapa bulan belakangan ini. Orang sakit biasanya selalu berpikiran jauh lebih aneh dibanding orang sehat. Di usiaku yang tak muda lagi ku pikir aku kena serangan jantung seperti kakak ayahku yang belum lama meninggalkan kami dan serta merta membuat perusahaan keluar kami gulung tikar
mengingat beliau yang selama ini menjadi ujung tombak perusahaan, tapi ternyata aku hanya terkena gastritis akut. Banyak hal yang tak bisa atau tak mau tepatnya untuk aku terima; salah satunya adalah orang gempal sepertiku bisa juga terkena penyakit ini. Orang bertubuh gempal sakit gastritis itu seperti perempuan cantik tapi rajin berdoa, sesuatu hal yang langka, setidaknya menurutku, tapi tidak menurut medis.
Aku tipe orang yang percaya bahwa segala penyakit muasalnya dari angin. Penyakit jantung itu tak ada, yang ada oksigen dan darah tersumbat lemak dan angin ketika menuju jantung, itulah yang orang-orang kenal dengan istilah angin duduk. Sakit kepala pun sebenarnya disebabkan aliran arteri yang menuju otak tak lancar. Sedang sakit telinga dikarenakan ada angin yang menutupi sekitar lubang dan gendang alat pendengaranmu dan sakit-sakit lainnya. Itulah sebabnya mengapa aku lebih percaya dikerik daripada klinik.
Kita seringkali cemas oleh sakit padahal kematian adalah keniscayaan. Seharusnya yang lebih kita takuti adalah sebuah pernikahan, ketika kita kelak membangun keluarga tapi kita tak bisa menghidupi kata bahagia di dalamnya.

Selasa, 30 September 2014

Tentang Pengganti

Sesuatu yang telah berakhir, seharusnya memanglah berakhir. Tanpa ada satu hal pun yang masih tertinggal atau berbekas. Dan setelah itu kita memulai lembaran baru. Tetapi sayangnya tidak sesederhana itu, setiap manusia memiliki ingatan yang menyimpan kenangan, membuat manusia itu sendiri menjadi pengingat yang baik perihal momen yang pernah dilewati bersama.

Di antara ratusan juta manusia yang tinggal di bumi ini, ada yang datang dan pergi di dalam kehidupan. Di antaranya ada juga yang menetap hingga saat kamu membaca tulisan ini. Orang yang datang mengisi kehidupan sedikit banyak memberikan perubahan di dalam diri dan dunia kita. Orang yang pergi pun sedikit banyak memberikan kenangan yang kita ingat di dalam kepala.

Ya, orang yang pergi selalu meninggalkan kenangan. Suara, canda, tawa, tangis, senyum, pengalaman, dan hal apapun yang membekas di ingatan.

Sebagian orang masih mengingat dan menikmati kenangan tentang seseorang yang dicintainya. Kadang kenangan yang membangkitkan luka, yang berisiko menyakiti hati. Sama halnya seperti memutar sebatang rokok di antara jemari dan telapak tangan. Kamu tau betul akan terluka jika ujung rokok yang menyala terkena kulit, tapi kamu tetap melakukannya. Mungkin seperti itulah analogi ketika menikmati kenangan.

Ketika seseorang yang kamu cintai pergi dalam keadaan masih sangat mencintainya, apa yang akan kamu lakukan? Beranjak dan merelakannya? Atau pasrah terjembab dalam kubangan masa lalu? Atau…, mencari seorang ‘pengganti’?

Seorang yang baru untuk menggantikan posisinya di hatimu. Seorang yang kamu butuhkan untuk mengobati luka patah hati. Seorang pengganti yang dapat kau cintai.

Berbicara tentang pengganti, secara sadar atau tidak, sebetulnya kamu hanya menukar posisinya dengan dia yang telah pergi.

Dan taukah kamu bahwa itu sebuah hal yang keliru?

Takkan ada pengganti untuk dia yang telah pergi, takkan ada. Sebab dia hanya satu dan satu-satunya di dunia ini. Dia spesial dan memiliki tempat yang istimewa di hatimu, karenanya kamu mencintainya dengan sangat sampai sulit dan bahkan tidak bisa merelakannya.

Menjadikan dia yang baru sebagai pengganti sama saja kamu menganggapnya sebagai alat yang berfungsi membahagiakanmu dan sebagai pelampiasan. Kamu tidak benar-benar mencintainya, karena perasaanmu masih yang lama. Cinta terhadap orang yang telah pergi. Dengan begitu kamu menipu hati.

Bukankah itu egois? Karena kamu hanya memikirkan dirimu sendiri? Bukankah itu bentuk ketidakmampuanmu dalam menerima kenyataan bahwa dia yang lama telah pergi? Sehingga kamu menggunakan dia yang baru sebagai pengganti.

Dia yang baru adalah seorang yang sepantasnya kamu cintai dengan hati dan perasaan yang baru, yang tanpa sedikit pun tertempel hal dari masa lalu. Seperti selembar kertas putih yang masih kosong. Kamu dan dia menulis cerita baru tanpa mengingat lagi hal-hal yang sudah berlalu.

Ingatlah, dia yang baru bukanlah pengganti, dia punya peran dan porsinya sendiri mengisi kehidupanmu. Lebih baik atau lebih buruk pun takkan sama, meskipun ada kemiripan dengan dia yang lama.

Menjadikan dia yang baru sebagai pengganti sama saja menyakiti dirimu sendiri dan tentu menyakitinya, sampai suatu hari kamu menyadari bahwa yang telah kamu lakukan adalah sebuah kesalahan atas egomu. Sampai suatu hari dia akhirnya menyadari bahwa kamu tidak benar-benar mencintainya.

Dia yang baru bukanlah pengganti, sebab dia mencintai dirimu dan yang menemanimu membangun masa depan.

Seorang Pelupa

Seorang pelupa adalah pengingat yang baik.

Seorang pelupa selalu mengingat siapa satu-satunya orang yang dia cintai dan mencintai dia, walaupun dia adalah seorang pelupa. Dia selalu ingat menyebut nama kamu dalam pikirannya sesibuk apapun hingga dia lupa kesibukannya. Setiap kali dia sendirian dan dia lupa bahwa dia sedang berkumpul dengan teman-temannya. Setiap kali dia menikmati secangkir kopi yang dia lupa tambahkan gula. Setiap kali dia sedang menulis sesuatu yang dia lupa. Setiap kali dia merebahkan kepalanya di atas bantal yang dia lupa diletakkan di mana, sesaat sebelum dia memutuskan membaca doa tidur, dan tidak lupa, dia ingin memimpikanmu.

Seorang pelupa jarang mengungkit kesalahan-kesalahan yang pernah kamu buat. Dia selalu berusaha keras mengingat kebaikan-kebaikan apa yang pernah kamu lakukan untuknya, sekecil apapun. Dia melupakan dendam. Dan jika dia tidak lupa, dia membuat hal manis yang tidak pernah kamu ketahui, entah apapun itu, dia mungkin sudah lupa.

Seorang pelupa kadang lupa waktu-waktu yang menurutmu penting dan bersejarah. Dia jarang menghitung sudah berapa lama dia bersama kamu, karena dia selalu lupa belajar matematika. Tapi percayalah, seorang pelupa tidak pernah lupa waktu pertama kali dia jatuh cinta padamu. Waktu pertama kali kamu memutuskan untuk bersamanya. Waktu kamu tidak sadar tertidur di dalam peluknya. Waktu dia menghapus air matamu saat kamu lupa menepati janji, dan dia memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf. Waktu dia berusaha tetap tersenyum menghadapi kamu yang sedang lupa dalam keadaan marah. Waktu kamu menyuruhnya untuk melupakannya untuk selama-lamanya. Dia akan mengingatnya, selalu, dalam diam, dia tidak akan pernah lupa, karena dia mencintaimu.

Seorang pelupa akan selalu ingat hal apapun yang mungkin telah lama kamu lupakan.

Seorang pelupa tidak pernah lupa untuk mendoakan kebahagiaanmu.

Pernahkah kamu dicintai oleh seorang pelupa?

Dan sialnya, aku lupa, aku adalah seorang pelupa.

Senin, 11 Agustus 2014

Mungkin Aku Adalah Keputusan yang Telat Kau Sadari

Aneh, mengapa aku?
Banyak laki-laki menuju dan berada di sekelilingmu. Awalnya adaku selalu ditiadakan. Aku selalu menjadi deret terakhir orang yang kamu prioritaskan. Aku sangat jauh dari kriteriamu. Aku selalu dianak tirikan. Aku adalah objek penderita, hanya pelengkap kalimat tentangmu, sedang aku selalu menuliskanmu sebagai subjek pertamaku. Aku menemukanmu yang tengah mencari selain aku. Sampai menghitam keningku bersujud dan luka lututku meminta kamu. Kamu adalah Nazar yang sudah terlanjur aku ucapkan.
Tak emosi walau berkali-kali diabaikan, hanya tertegun diam lalu diam-diam aku beranjak pergi.

Kau lelah mengejar dan dikejar, pada akhirnya cinta sebenar-benarnya cinta akan berpulang di hati ke pemiliknya yang sabar. Sukmaku terdiam kau mengoyak hebat gigir lukaku. Sayangnya kehadiranmu hanya melembabkan retak-retak tanah, kesepianku. Menerima hadirmu kembali bak dada yang siap untuk kau lubangi lagi. Mungkin salah satu kelebihanku adalah menerima banyak kurangmu.
Semoga akulah keputusan matang yang telah kau pikirkan lebih dari sekadar masak atau mungkin aku adalah kekeliruan yang kelak akan engkau sadari. Cintai aku saat ini lalu mulai terbiasalah nanti. Ternyata menyayangimu adalah perjalanan ketabahan untuk seorang aku.

Kau Kah itu Kekasih Ku

Kini aku seperti orang asing yang merasa asing di pilihan dan perjalanannya sendiri. Telanjanglah kekasih dalam kebenaran dibanding memakai jubah emas kepalsuan. Beritahu aku di bagian mana aku telah alpa tak mencoba memahamimu. Aku orang salah paling bersalah, menemukanmu adalah kesalahan berlapis yang mungkin patut aku syukuri. Jangan mereka-reka, sejauh kau masuk ke dalam hidupku sejauh itu pula aku berbekal teduh matamu akan sabar menyayangimu. Rayulah aku mungkin aku takkan mempercayaimu, kritiklah aku mungkin aku takkan menyukaimu, tapi cintailah aku mungkin aku akan lebih mencintaimu. Pada kursi taman yang tegap berdiri sendiri dan sebuah lampu di tengah kolam telah melengkapi sebuah musim. Musim yang memberiku banyak tanda tanda, berhenti atau melanjutkan perjalanan.

Dengan Menciummu Sedikit Saja Aku Langsung Banyak Tahu Bagaimana Aroma Luka

Senja itu aku tertidur di ruang tamu, menyandarkan kepala di bahu teman kampusku yang gemulai, jangan bilang teman yang lain bungkamku dengan sebuah kecupan di bibirnya. Aku mengingat banyak wajah di sela cumbu hari baru atau malah mungkin hari akhirku dengannya. Sekilas dalam bola matamu, ku lihat apa itu surga, hingga kau sekat dan memilih memejam untuk sekadar mengelabuhi pandanganku. Setelah berpeluh denganku, malamnya ia dibawa ke psikater lagi, dia memang sedang sakit, ku rasakan kulitnya hangat yang menghangatkan, maaf kataku, besok tapi lagi ya ujarku dalam hati.
Waktu berselang pecutan kata keluar dari bibirmu yang serentak membuyarkan sukmaku, tiba-tiba kau marah. Salahku apa?.

Baiklah, mungkin aku salah, aku meminta maaf karena aku masih tahu caranya berterima kasih atas sebuah harga, semoga masih ada pengampunan untuk hati cemas di hari ini. Sebagian pikiranku gundah akan diri sendiri, sebagian hatiku riuh mendebarkan namamu. Sebagiannya lagi cemas akan kita. Benarku tak pernah benar, salahku selalu saja salah. Jika memaafkanku terasa mahal, berapa harga mintamu?. Namun aku belum cukup kaya raya untuk membeli sebuah ego denga seperangkat angkuhmu. Aku berusaha menjadi baik di mata orang-orang yang aku pilih, jika enggan memaafkanku baiknya aku pergi.
Dalam hatimu yang terbuka, kucoba meraba adakah namaku di sana?, ternyata ada banyak nama, namun kurasa tidak ada satupun namaku di antaranya. 
Dalam pikiranmu yang gamang, kucoba meraba adakah tentangku disana?, ternyata ada banyak hal, namun kurasa tidak ada satupun tentangku di dalamnya. 
Kau ibarat buku sangsekerta tidak dapat ku pahami makna di setiap lekuk tubuhmu yang ingin ku pelajari.
Hasratku padamu sangat besar, tapi aku punya rasa yang lebih besar dari itu yaitu malu. 
Hatiku yang sudah tak mengenal rasa sakit mencoba tabah melebihi semua gegabah yang sering kulakoni.  
Mengapa harus saling memusuhi untuk segala yang kau sukai tapi tak dapat dimiliki.

Sabtu, 09 Agustus 2014

Akulah Sang Mantan

Jika seseorang yang pernah dekat denganmu memberi banyak inspirasi, jangan ragu menulis segala hal tentangnya, kalau dia kepedean dan nyinyir enggak jelas berarti dia yang gagal atau belum move on dari kita.
Jangan hanya disimpan di draft, ungkapkan...
karena gengsi hanya milik pecundang yang belum belajar apa arti sebuah pengalaman masa silam.

Bawa Serta Bukumu

Aku suka menulis tapi tidak suka membaca.

Ku buka lemari, kulihat ada sebuah buku tertinggal dirumah,
menunggu pemiliknya datang menjemput, tetapi tak kunjung tiba.
Apakah kau masih ingin diam, sesungguhnya aku butuh kejelasan.
Kalaupun kau sudah tidak ingin bersama, setidaknya temui aku terakhir kali, untuk mengambil hati yang masih tertinggal dipikiranku yang sepi.
Jika kebahagiaan ditunjukan dengan sebuah senyuman, setidaknya ada kesedihan yang patut kita rayakan bersama dengan sebuah pelukan.
Pelukan perpisahan.

Jumat, 08 Agustus 2014

Tetap

Tetap sabar sayang saat kau mulai geram.
Tetaplah ramah saat aku mulai berulah.
Tetap tersenyum saat kau mulai marah.
dan Tetaplah memeluk saat aku mulai tak terkendali.
Namun saat hujan kini bukan lenganku lagi yang akan memeluk bekumu. 
Karena aku sudah kau penjara dalam masamu yang kau sebut lampau.

Seandainya Aku Bisa Mendengarkan Lagu Ini Bersamamu





I see trees of green, red roses too
I see them bloom, for me and you
And I think to myself, what a wonderful world 
I see skies of blue, and clouds of white
The bright blessed day, the dark say’n goodnight
And I think to myself, what a wonderful world
The colors of the rainbow, so pretty in the sky
Are also on the faces, of people going by
I see friends shaking hands, sayin’ “how do you do?”
They’re really sayin’ “I love you”
I hear babies cryin’, I watch them grow
They’ll learn much more, than I’ll ever know
And I think to myself, what a wonderful world
Yes I think to myself, what a wonderful world
Oh yeah

Bahasaku Bukan Bahasamu

Hai seseorang yang tidak bisa kusebutkan namanya......
Mungkin bahasaku bukan bahasamu, kau cukup baca tapi tak perlu kau cerna.
Aku ingin bertanya, lebih baik bertahan dalam diam atau melupakan?, karena kutahu bilang ini kedirimu begitu menakutkan.
Aku mengenalmu secara digital, namun berangsur menyukaimu secara analog.
Bodoh rasanya menyukai seseorang yang kita sendiri tidak mengenalnya. 
Ada perasaan beda yang bermakna tak berani bicara, biasanya aku dengan mudah menyatakan suka, tapi mengapa kepadamu bibir ini sulit berkata.
Sebab aku tak sungguh mengenalmu, aku menyukai separuhmu atau menyukai yang kuduga adalah kamu.
Sebagian orang memilih diam untuk menikmati perasaannya, sebagian lagi memilih blak-blakan meski akhirnya bertepuk sebelah tangan.
Rasa suka ku padamu masalah hasrat, jodoh akhirnya pilihan, banyak orang mengaku mereka memilih yang bukan paling mereka sukai.
Jujur, aku menyukaimu setinggi impian, namun lantas harus dikurangi mengingat kenyataan...


Dari yang menjadikanmu inspirasi-inspirasi disetiap hari, walau tanpa secangkir kopi.

Apa yang Kamu Tunggu?

Karma bisa mendatangimu dalam banyak hal; punya atasan kikir, licik dan antikritik misalnya. Bekerja itu seharusnya seperti halnya bercinta, paling tidak harus ada bagian memakai hati di dalamnya. Hidup memang tak selalu mulus, terkadang yang ditawarkannya dalam mencari uang adalah; kita menyukai pekerjaannya tapi atasannya banyak ulah atau kita punya rekan kerja yang kooperatif tapi lelah kerja tak sebanding dengan upah atau polemik lainnya yang sudah tidak aneh lagi yang sering ditemui bagi seseorang yang jam terbang di dunia kerjanya sudah tinggi.
Hal yang paling mendasar dari bekerja adalah nyaman dan sejahtera, kalau kau nyaman tapi tak begitu sejahera kau masih bisa bertahan atau kalau kau tak nyaman tapi sejahtera kau bisa bertahan dengan cara berpura-pura nyaman. Namun, ketika kau tak mendapatkan kedua unsur tersebut jadi apa yang kamu tunggu?

Kamis, 07 Agustus 2014

Yang Berkata "Aku Takut Kehilanganmu" pada Akhirnya Akan Pergi Juga

Gula-gula dari sakuku mungkin tak cukup mentol dibanding permenmu hingga kau menolak, tapi kuyakin brondong jagung karamel kesukaanku lebih nikmat dibanding keripik kentang vetsinmu, atau tak ada yang lebih menyehatkan daripada air putih yang kugenggam dibanding minuman lemon olahan yang kau pesan. Lalu lampu padam menandakan pertujukan teater akan dimulai. Aku tak tahu kita sedang menonton apa, tapi yang pasti kepalaku memutar segalanya tentangmu kala itu.

Pertunjukan usai, seperti biasa kita tak tahu entah ke mana lagi untuk sekadar melewati hari agar tetap bersama. Katamu, bagaimana kalau kita mengitari Jakarta dengan kendaraan umum dan ternyata itu bukan ide yang buruk, hujan di luar jendela dan pendingin kendaraan yang terasa gigil tapi perasaan di hati masing-masing dari kita, tak kah kau rasa begitu hangat.
Suatu hari, kita akan sama-sama lupa tentang hari itu. Hari di mana cinta tak hanya cukup dirasa tapi juga harus dikata.
Aku suka rumah tapi tak menolak penginapan.
Di lain hari selain jariku, tidak ada yang rela kotor mengerik punggungmu setabah aku, merawat luka dan keluhmu sesadar aku, sekalipun kawan-kawanmu yang selalu kau banggakan itu yang jika kau sakit saja tak ada satupun yang berkesempatan mengunjungimu.
Setelah peluhku jatuh, mengapa ku kau punggungi.
Lalu aku mulai membencimu dan hal-hal sementara lainnya.
Sekalipun waktu bisa dibeli, Tuhan.. aku ingin tetap begini, cukup hatiku yang hancur tapi tidak dengan keadaan.
 
 

Tentang Perasaan yang Baru Dimulai Lantas Dipaksa Selesai

Berangsur kau membuatku nyaman, sejak saat itu aku sadar aku dalam bahaya. Masih sering memikirkan seseorang menandakan bahwa mungkin masih ada perasaan yang belum terselesaikan. Terkadang kita sibuk memikirkan orang yang tidak memikirkan kita, padahal betapa berharganya hidup kita di kehidupan orang lain selain dia. Tapi mungkin Tuhan menghukumku dengan caraNya dengan mengutukmu membatu di kepalaku, sedang aku hanya musafir yang pada belukar hatimu aku terusir.


Berdoa siang dan malam agar diberi lupa, padahal sesaat aku berdoa sesering itu pula aku mengingatnya. Dinginnya laut lepas tidak akan sebanding dengan dinginnya hati seseorang yang dipaksa untuk dimiliki lalu keberadaannya dianulirkan. Rasakan aku sebagai salah satu orang dari banyak orang yang masih mencemasimu.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Pulang

Bangku taman, lampu jalan, ranting basah selepas hujan melengkapi musim. Di sini aku baik-baik saja dan perasaan ini masih sama, debar cinta kali pertama.
Pulang terkadang tak selalu tentang tempat.
Kekasih yang manja lagi montok, musim gigil di lipatan selimut atau tentang makanan kesukaanmu. Pulang berarti kembali ke segala yang kau cintai, ke sesuatu yang membuatmu lengkap, ke dia yang jika di dekatnya kau dapat berbuat banyak, ke siapa yang dapat membuat dirimu nyaman dan menjadi apa adanya dirimu sendiri yang bukan apa-apa.
Ada masanya pengembaraan hati terasa cukup, kini tibalah rasanya kapok.
Janji pilih menetap, janji ingin membawa ke suatu tempat, janji mana yang tidak kita ingkari, tapi inilah cinta dengan segala pemaklumannya.
Ada yang ingin bahagia; ia datang lalu menetap. Ada juga yang ingin bahagia; menetap lalu pulang.
Aku ingin pulang padamu berkali-kali, berulang-ulang, tolong jauhkan aku dari kata dan makna khatam.
Beberapa orang menahan perasaan ingin pulangnya hanya takut tak bersambut, padahal hasrat nyata terasa. 
 
 

Daun

Selama ini takkah kau tahu sebuah daun tak pernah benar-benar jatuh ke tanah. Daun itu banyak diterbangkan angin menuju dahan pepohonan yang satu ke yang lainnya. Daun yang mencoba hidup di ranting lain karena batang pohon utamanya terlihat rapuh. Daun yang mencari sinar matahari karena klorofilnya hampir pudar. Seberapapun ia gugur percayalah anginkan menerbangkannya lagi kembali pulang, karena daun itu tidak pernah benar-benar meninggalkan rantingnya. Maaf untuk pohon-pohon lain yang pernah dijatuhi, dijatuhi dusta olehnya.

Ternyata Diam di Tempat

Ada tak ada kembali tiada. Utara Selatan Timur Barat berakhir di Tenggara. Tak pernah ku lihat apalagi baca bisa-bisanya aku menjadi-jadi. Ke dadamu yang tiada praduga ingin ku jatuhkan segala gaduh riuh kepala pada awalnya. Aku menyukaimu dengan segala ketidak warasanku, oh ini sesuatu hil yang mustahal sampai ingin ku dekap hatimu sebagaimana erat ku peluk sebuah rahasia. Lantas ku lihat takdir berdiri angkuh serta garis tangamu tentang aku yang mengabu, sepertinya ku harus angkat paksa kemudiku untuk bergegas menjauh. Sampai saat ini merasa keberadaan dan ketiadaanmu saja masih membuat sesak rongga dada, oh aku jatuh cinta dan patah terlalu terburu-buru. Tapi bukankah lebih baik patah terburu-buru, patahan sekarang masih kuat menopang tak seperti rapuhan nanti tiada kaitan. Dengan lincahnya aku meloncat dari hati yang satu ke hati yang lain, padahal jangankan berjingkrak jalan pelan pun tidak.

Jumat, 01 Agustus 2014

Pejam Mata pada Bolanya yang Kuyup

Lagi-lagi kita temui percabangan hati; antara mempertahankan yang sudah lama namun tak pasti, seseorang yang sudah pergi dan takkan kembali atau keragu-raguan yang baru ingin dimulai.
Ada seseorang dengan bangganya berbicara bahwa yang mencintainya bukan hanya satu orang wanita saja, padahal bisa saja beberapa detik dari dia berbicara mungkin ia akan kehilangan satu diantaranya. 
Kau tersakiti oleh yang lain, kau datang padaku untuk menutupi sedikit rasa sakitnya. 
Kau berusaha melupakan orang yang kau cinta karena tidak dicinta dengan cara mencintai orang yang mencintaimu.
Malam kemarin kau ada di pelukku, entah esok kau berada di dekap siapa. 
Aku berada
pada deret pertama dari deret panjang pilihanmu tapi tetap menjadi deret pertama orang yang mungkin takkan pernah kau pilih. 
Ketika namaku dihapus dari pikiran dan hati seseorang, semoga Tuhan menuliskannya kembali ke orang yang lebih tepat. 
Aku merindukan aku, merindukan aku sebelum mengenalmu.
Maumu apa?, kau punya maupun aku tak mau denganmu. 
Mauku apa?, ku punya maupun kau tak ingin denganku.
Ikuti arusnya tapi jangan sampai terbawa ombak, sayangnya aku sudah hampir tenggelam. 
Kalau bukan kau orangnya, lantas siapa lagi?. 
Sebaiknya yang tiada kembalilah tak ada. 
Walau sekedar harap, sejauh ini cintamu adalah kebohongan yang sangat memabukkan. 
Ketika ada cinta baru namun gagal paling tidak dapat melupakan kesedihan karena cinta sebelumnya. 
Kita tidak saling mengaitkan borgol, jika gerakmu merasa tak bebas, pergilah kapanpun kau mau. 
Kusiram raksa pada geronggang rahang hingga ke hati. Berharap segala rasa ini menguap dan hilang dengan sendiri. Untuk semua perkara rasa yang sebaiknya tidak terucap, aku mohon perhatiannya Tuhan.