Senin, 21 Januari 2019

Hakikat Menikah di Mata Para Pencibir




Saya percaya bahwa pertemanan itu seperti jodoh, bukan mengclusterkan tetapi memang begitu lah adanya, kita akan bersama dengan orang yang menerima dan tentunya sefrekuensi dengan kita.

Sudah lama tidak bertemu, komunikasi pun seadanya, tapi saya punya cara tersendiri untuk saling mensupport yakni dengan mengapresiasikan karya satu sama lain.


Semalam saya membaca sebuah tulisan di blognya yang berjudul Pelabelan Perempuan Kebanyakan Memilih-Milih Jodoh serta merta pun saya menulis tulisan ini karena merasa sepaham dan ingin menambahkan.

Menikah adalah produk kebudayaan paling dungu yang dibuat manusia, kalimat itu yang selalu saya gaungkan walau ketika terjadi perdebatan, saya tidak bisa lebih tepatnya tidak ingin melanjutkan pertanyaan mengapa banyak orang dengan jawaban karena.

Manusia diciptakan indera untuk berbicara walau kiranya kita sadar yang lebih sering terdengar adalah nada sumbang dari pada yang indah-indah.

Kawan saya menikah dengan pria asing, sahabatnya sendiri yang bilang ia hanya ingin mengincar harta.
Teman saya belum menikah di usia yang tak lagi muda, orang bilang bisa saja ia tak laku atau lebih sering menutup diri dari pergaulan.
Saudara saya melakukan resepsi, kata keponakannya yang lain sambil berbisik; dandanannya tak membuatnya pangling.
Tetangga saya yang lainnya menikah, tetangga seberang rumahnya berkata; masakannya sudah habis sebelum waktunya, mana rasanya hambar.
Lalu ada lagi sekelompok ibu-ibu fanatik yang berdiri di depan gerobak sayur di depan rumah berkata; pasangan itu tidak lelah tinggal bersama terus tanpa adanya ikatan pernikahan?

Kita hidup di mana hanya mendengarkan omongan orang, itu mungkin salah satu yang menjadikan saya tumbuh sebagai pribadi yang sangat cuek malah terkadang cenderung apatis dan tidak pernah mengurusi orang lain terutama tentang ke-Tuhanan dan moral.

Cerita di atas menggambarkan bagaimana kita serba salahnya dalam menjalani hidup untuk menempuh hidup baru itu sendiri.

Lantas saya berpikir dari pada orang lain mencibir setengah-setengah lebih baik saya kasih sajian utama yakni dengan suatu saat jika saya menikah nanti mungkin tidak akan ada orang yang saya undang dan kalau perlu punya istri lebih dari satu atau malah menikah tetapi masih dalam keadaan menjaga keperjakaannya, lalu omongan lainnya yang akan timbul adalah siapa yang mandul laki-laki atau perempuannya kah?

Selasa, 16 Mei 2017

Cerita yang Disempurnakan



Seorang kawan kecil saya bercerita pada kami. Dia diminta menjadi pembawa dan pemeriah di sebuah acara saklar mantan kekasihnya. Hubungan mereka berlangsung belasan lama. Sebelumnya laki-laki itu malah meminta menghabiskan malam bersama, melakukan percakapan-percakapan tubuh sebelum hari pernikahannya tiba. Mereka berpisah bukan karena sudah tak cinta, melainkan atas nama Tuhan yang diucapkannya berbeda. Laki-laki itu menjalani delapan tahun bersama dengan perempuan yang dikenalnya dari sebuah ritual agama. Kawan saya masih turut serta dalam delapan tahun kebersamaan mereka.

Bodoh adalah bahan dasar cinta. Jika kawan lainnya memarahi, tapi tidak dengan saya. Saya tak punya hak menegur atas karena harga diri dan ketidaktahuan dirinya. Kawan saya punya akal dan nalurinya sendiri, tanpa harus terinterpensi sekelilingnya, dia berhak memilih kehendak hatinya.

"H- berapa kau memutuskan tak kan berkomunikasi dan bertemu lagi dengannya?"
H-7 katanya lantang, sambil menganulir menjadi H-3. 

Saya semakin ragu akan segala makna pernikahan. Mengapa kita didoktrin budaya harus menikah hanya karena omongan tetangga, saudara dan penyempurnaan ibadah; untuk memiliki keturunan dalihnya, agar tua nanti ada yang urus dan mati ada yang membacakan doa.


Menikah bukan lah akhir, dari segala rasa, asa dan kemerdekaan yang direnggut paksa hanya karena dogma. Berbahagialah dan terimalah setiap sakitnya bahwa kita tidak memiliki kuasa apa-apa di hidup ini.

Bagaimana Mungkin Bersinar di Suatu Tempat jika Bukan Takdirmu di Tempat itu


Ketika pengalaman kerja saya baru berpindah kira-kira  >5<10 tempat, saya punya prinsip bahwa harga diri seseorang adalah ketika dia bekerja, tapi hari ini dan beberapa banyak bulan belakangan ketika sudah berpindah tempat >/ 11 paradigma saya berubah. 

Saya di usia kepala dua ini sudah mengalami banyak hal dalam dunia kerja. Saya merasa sudah lelah dan hampir segala senang dan duka di dunia kerja sudah saya lalui. Penghasilan yang sekarang ini (gaji dan di luar gaji) saya kira sudah cukup, mengingat gaya hidup saya yang apa adanya pun masih dapat terpuaskan, permasalahannya hanya belum stabil, yang penting tak punya utang.

Sebelum membaca kalimat ini pasti kalian melihat gambar dengan quote besar yang sudah sering kalian dengar pada iklan sebuah coklat. Ketika pertama kali melihat iklan itu saya agak tersedak. Bagaimana mungkin kamu bisa bersinar di suatu tempat jika bukan takdirmu di tempat itu, pikirku. Saya sangat mengAamiini quote klise yang berbunyi orang tepat di tempat yang tepat.

Performa seseorang terkadang tidak hanya bisa dilihat hanya karena dia tidak bisa menjalankan pekerjaannya dengan baik. Tapi, rekan dan atasan yang kooperatif, suana kerja yang menyenangkan, infrastruktur yang memadai mengambil alih gairah kerjamu di sana. 
Jika seseorang pekerja tidak melakukan pekerjaannya dengan baik, tidak hanya pekerja itu yang harus intropeksi namum tempat ia bekerja pun harus dikoreksi. Mungkin ada yang salah.

Mengambil quote dengan perubahan dari salah satu tulisan yang pernah saya baca.
Apa yang dapat saya kerjakan sendiri, baiknya saya kerjakan sendiri. Tak perlu suka menyuruh-nyuruh, tak pernah punya kebiasaan senang memerintah-merintah. Tak heran jika saya tak sudi diatur-atur, diperintah-perintah.
 “Tulang punggung saya terlalu keras untuk membungkuk di hadapan siapa pun.”

Apakah duduk di kantor 8 jam atau lebih efektif?
Tidak menurut saya.
Kita harus melakukan hal lain selain bekerja, kita harus berkumpul dengan keluarga dan teman, kita harus bercengkrama dengan pasangan, kita harus menyalurkan hobi, kita harus berolah raga, kita harus punya pleasure yourself.
Lembur boleh, tiap hari jangan!

Kebutuhan akan Penghasilan dan Gaya Hidup
Seorang kawan yang beberapa kali kedapatan setiap nongkrong (pura-pura) tidak membawa ATM dan uang tunai mengajak saya mengobrol hal yang menurut saya tidak produktif di sebuah kafe. Bersikeras saya menolaknya. Saya bilang saya lapar dan uang dua puluh lima ribu rupiah hanya cukup membeli ice lychee tea yang lecinya pun sudah dipotong kecil-kecil, sedang di sini (di sebuah rumah makan Aceh) saya bisa makan karbohidrat.

Kita semua butuh uang untuk makan dan bertahan hidup, kita butuh bertemu kawan tapi tidak sekadar nongkrong hore hanya untuk menunjukan level.

Ketika Kecintaanmu Terhadap Sesuatu Menganggu Warasmu


Pernakah kamu jatuh cinta sebelum bertemu? dulu saya tak mempercayainya, sekarang saya sedang. Dialah gadis cantik gempal yang lahir pada tanggal 11 Maret 2015 silam di negara bagian Amerika Serikat, bernama Kinsley Raina. Saya tak mengenalnya dan pasti tak kan pernah bertemunya pun, tapi pada bulat hitam penuh teduh matanya, hati saya jatuh. 


Berawal dari kolom discovery sebuah jejaring sosial, saya melihatnya begitu renjana.



Ditambah postingan teman kuliah saya yang menampilkan videonya yang sedang asik bermain air membuat saya ingin melihat kelucuannya lagi, lagi dan lagi.


Ketika menciptakaannya, mungkin di dalam perut Tuhan sedang panen kupu-kupu. Indah dan saya percaya tidak seorang pun dapat menolak pesonanya.



Tiada hari tanpa melihat tumbuh kembangnya dari dunia maya. Sampai akhirnya 1 November 2016 menjadi hari di mana akunnya berhenti memposting foto dan video. Ibunya; Tiffany Graham (lahir sebagai triplet dengan saudara kembar yang bernama Jamie Graham dan Melissa Graham pada tanggal 6 Oktober 1992, sebelumnya Tiffany pernah menjadi tenaga kesehatan di United States Air Force*) yang bertindak sebagai pemilik akun mengatakan pada caption profilenya 'halaman akun ini akan ditutup karena masalah pribadi, doakan kami terus' dan unggahan video Kinsley berikutnya yang bersuarakan memanggil-manngil ayahnya di sebuah gawai.

Dengan pencarian pada internet dan berbekal data seadaannya spekulasi saya berkembang perihal eksploitasi anak, karena beberapa halaman pada internet mengulas perihal masalah ini dan beberapa orang membuat petisi agar sang ibu menutup akun anaknya, dikarenakan terkadang para orang dewasa mengomentari Kinsley dengan bahasa kotor dan umpatan kasar.

Bulan berubah, hingga tahun berganti, akunnya tetap belum memposting apa-apa, padahal ada Natal dan Tahun Baru yang harusnya mereka rayakan dengan penuh suka cita dengan dokumentasi-dokumentasi yang diabadikan penuh gembira. 

Semakin rindu hati ini sampai ada postingan baru tentangnya yang datang bukan dari akunnya langsung, melainkan saya dapatkan dari sebuah hestek yang muaranya ternyata dari akun sahabat kecil Tiffany; Amy.
Biasanya tingkat penambahan usia selalu berbanding lurus dengan pudarnya kelucuan seorang bayi dan balita. Sudah besar sekali dia dan tidak mengurangi rasa cinta di hati saya.



Singkat cerita pada hari-hari yang sangat merindu, ada hari di mana saya menemukan akun baru ayahnya sedang menggendong bayi yang dijulukinya bernama baby hippo, ayahnya bernama Christian Wilcox (lahir 9 November 1990, bekerja sebagai meteorologist di  U.S. Navy dan seorang bodybuilder*)  



Rindu saya terobati sesaat. Melihat senyumnya, melihat giginya yang hampir penuh, melihat dia tertidur. Semua terasa surga. Mengurangi ketakukan saya tentang makna kelahiran anak yang sering saya teriaki dengan dalih over populasi.



Sampai akhirnya, teka-teki penutupan halaman akun Kinsley yang dulunya akun Tiffany terungkap.





Ada bunga lain mekar di hati Christian, bunga itu bernama Bridgitte Olivia, secara visual memang lebih indah, lebih tinggi, lebih semampai dan pastinya lebih proposional dan tanpa terasa air mata saya terjatuh. Bukti ini sekaligus mengAamiini pandangan hidup saya tentang makna kecantikan dunia.

Semua mungkin telah selesai untuk Tiffany dan Christian, mengalahkan banyak hal yang pernah dilalui bersama tanpa pula memandang Kinsley sebagai benih dari persenggamaannya yang ternyata tanpa gaun mewah dan pemberkatan yang sekali lagi mematahkan prinsip saya tentang pembolehan tinggal bersama sebelum menikah asal cinta. Mereka hanya melakukann pertemuan keluarga di November 2013 tanpa ikatan pernikahan. Di sini kita bisa lihat laki-laki bisa pergi begitu saja tanpa adanya hukum dan agama yang mengikat, tanpa melihat anak yang akan menjadi korbannya.


Tidakkah kau Christian mengingat akan kecintaan Tiffany terhadapmu?
Dia selalu memujimu tampan, dia bilang kau hebat, di matanya kau tanpa cela. Kau bagai savior dan keeper bagi hidupnya. Kau pelaut kesayangannya. Dia rela setiap hari ke tempat kebugaran, berlatih dan berdiet keras agar dapat menyeimbangimu, tapi kita semua paham cinta cuma di awal, selebihnya kemampuan atas keinginan tetap bersama.






Tapi apa pun keputusan dan kejadian akan kelak, semua yang terbaik untuk kalian, terutama untuk bayi kecintaan kita semua; Kinsley Raina. Hi Tiffany, Tuhan tidak akan mengambil sesuatu darimu tanpa menggantinya dengan yang lebih baik. Terima kasih telah melahirkan anak malaikat.

Beberapa akhir dari tulisan ini, teruntuk wanita pemenang hati Christian sekarang, semua orang pasti sependapat Christian diberkati Tuhan wajah dan tubuh sempurna, tapi jauh sebelum dia mengenalmu, Christian sudah melakukan hal yang mungkin kini kau lakukan dengannya, berfoto bersama bahkan dengan pose dan moment yang sama. Mungkin saja suatu hari dia akan melakukan hal yang sama terhadapmu seperti ke Tiffany dulu dan sekarang.


Terakhir, terima kasih ku untuk seorang Christian atas perbuatan pencabulan dan pembunuhan adik tirimu sendiri (Sierra Wilcox) dengan itu kau dan kita semua sadar bahwa di luar sana akan banyak orang-orang yang menerima dan mencintai kita apa adanya dengan seperangkat masa lalu yang kelam.


Maaf untuk tulisan yang sedikit banyak terdapat aspek penilaian pribadi dan kejadian ini bisa saja menimpa kita semua, yakni ditinggalkan orang terkasih. Entah karena keadaan, entah karena orang yang lebih memikat.

Rabu, 18 Mei 2016

Kekasih-Kekasih yang Sulit Kau Mengerti Maunya Apa

Di sebuah malam.
Pertengakaran terjadi di telepon genggam, padahal sebelumnya mereka membicarakan tentang pertengkaran hubungan orang lain. Dia menangis lalu menutup telepon genggamnya. Lalu berharap, mantannya masih berusaha menghubungi dan menanyakan kenapa.

Di menit berikutnya.
Benar saja mantannya menelpon dia kembali dan menanyakan mengapa. Mantannya bilang maaf dan memohon jangan pergi darinya. Tetapi dia bersikeras untuk pergi bukan lagi karena tak cinta, tetapi karena malu dan kehilangan muka di depan mantan kekasihnya sendiri untuk masalah yang tak dapat dipahami selain orang yang dipercayai mendengarkan masalah ini.

Di balik selimut yang menutup wajahnya.
Tanganya tidak lepas dari telepon genggam yang sudah beberapa kali dilempar begitu saja di bawah tempat tidur. Diambil, dilihat dan dilempar lagi. Sebelum ia memutuskan benar-benar mematikan penuh telepon genggamnya.

Di balik komputer duduk.
Keesokan hari, mantannya masih menghubunginya dengan panggilan tidak semanja biasanya lewat pesan yang sengaja ditunda namun pada akhirnya tetap dibuka. Mantannya masih bilang maaf dan semua akan baik-baik saja, segala masalah pasti ada solusi dan akan dilewati bersama. Tetapi dia marah dan berkata mantannya tak berhak menghubunginya lagi setelah apa yang terjadi malam itu. Selang beberapa menit dia justru menghubungi mantannya. Ya teleponnya tak diangkat.  Lalu  mantannya menghubunginya kembali, mantannya memberi alasan tak mengangkat telepon karena sedang berada di kamar mandi, tetapi tak lama teleponnya dimatikan, ketakutan akan pulsa yang habis jika dipakai menelpon hanya untuk mendengar ucap serapah. Dia mencoba menelpon kembali mantannya berkali-kali, ternyata mantannya menolak teleponnya sesering dia melakukan panggilan keluar.
Sejak itu dia memutuskan untuk menghapus semua kontak mantannya dan memblokir semua sosial medianya.

Dan dia telah menyiapkan sebuah harapan yang dibuatnya sendiri.
Nanti jika mantannya menghubungi timbulah percakapan ini:

“maaf nomer siapa ini?”

Dan beberapa hari telah terlewati.
Tidak ada nomer yang dia kenali menghubunginya.

_
Itulah akhir hubungan dia dengan kekasih keduanya.

Indah Tak Tergapai

Mengenalnya bagai mendulang udara di ruang hampa, menukarnya dengan duniapun tak setara. Itu kata-kata yang pernah saya baca dan saya ujarkan tertuju untuknya. Dia laki-laki berprofesi design graphis di salah satu digital advertising di dekat kediaman saya dengan karir yang sangat cerah, dia menarik, dia cerdas, dia hebat  dan yang terpenting dia cerminan kebaikan dalam diri saya. Kepala, pemikiran, bahkan kebiasaan sebelum tidur pun kita serupa.

Segala hal terlihat mudah jika di dekatnya. Kami banyak menghabiskan waktu bersama untuk berbincang  terutama, kamipun sangat nyaman serta cocok satu sama lain, pada awalnya.


Dia sosok tanpa cela di mata saya.  Dia sempurna bahkan hal-hal kecil seperti kacamatanya, ya saya sangat menyukai kaca matanya, bahkan sarung mukanya. Sampai akhirnya kadar tahu dan sadar diri saya harus lebih besar dari rasa kagum saya padanya. Mungkin dengan dia menjauhi saya adalah benar adanya, karena apalah arti rumput teki di hadapan beringin tinggi.

Raganya Pindah Berulang Hatinya Tinggal

Cerita tentang seseorang yang menemukan rumah dalam mencari uang tetapi diputuskerjakan secara tiba-tiba. Banyak mencari tetapi tidak sedikit pula tawaran yang datang tetapi dirasa belum lagi sama.

Mungkin kerjaan itu seperti jodoh. Sekali bertemu yang cocok, kita akan selalu pakai itu sebagai patokan dalam mencari jodoh yang lain. Apalagi jika putusnya tidak baik-baik, pasti akan kebawa dan teringat terus. Pekerjaan juga sebenernya bagian dari identitas, saat sudah menemukan pekerjaan yang sesuai, dengan sendirinya jiwa kita bisa berkembang dan mendapatkan habitatnya di mana kita bisa terus tumbuh di sana. Nah sekarang kita dicabut dari tempat kita, sulit rasanya untuk kembali mencari tempat berakar lagi. But life's need to keep rolling.. dalam perjalanan waktu, harusnya luka itu terobati. Kita mau tidak mau harus sembuh dan kenangan yang terakhir dijadikan motivasi untuk tidak sekadar menemukan tempat kerja yang sama, tapi menciptakan suasana yang sama, contohnya dengan membawa keceriaan dan komunikasi yang menyenangkan dan menenagkan ke tempat yang baru sekarang.