Rabu, 18 Mei 2016

Kekasih-Kekasih yang Sulit Kau Mengerti Maunya Apa

Di sebuah malam.
Pertengakaran terjadi di telepon genggam, padahal sebelumnya mereka membicarakan tentang pertengkaran hubungan orang lain. Dia menangis lalu menutup telepon genggamnya. Lalu berharap, mantannya masih berusaha menghubungi dan menanyakan kenapa.

Di menit berikutnya.
Benar saja mantannya menelpon dia kembali dan menanyakan mengapa. Mantannya bilang maaf dan memohon jangan pergi darinya. Tetapi dia bersikeras untuk pergi bukan lagi karena tak cinta, tetapi karena malu dan kehilangan muka di depan mantan kekasihnya sendiri untuk masalah yang tak dapat dipahami selain orang yang dipercayai mendengarkan masalah ini.

Di balik selimut yang menutup wajahnya.
Tanganya tidak lepas dari telepon genggam yang sudah beberapa kali dilempar begitu saja di bawah tempat tidur. Diambil, dilihat dan dilempar lagi. Sebelum ia memutuskan benar-benar mematikan penuh telepon genggamnya.

Di balik komputer duduk.
Keesokan hari, mantannya masih menghubunginya dengan panggilan tidak semanja biasanya lewat pesan yang sengaja ditunda namun pada akhirnya tetap dibuka. Mantannya masih bilang maaf dan semua akan baik-baik saja, segala masalah pasti ada solusi dan akan dilewati bersama. Tetapi dia marah dan berkata mantannya tak berhak menghubunginya lagi setelah apa yang terjadi malam itu. Selang beberapa menit dia justru menghubungi mantannya. Ya teleponnya tak diangkat.  Lalu  mantannya menghubunginya kembali, mantannya memberi alasan tak mengangkat telepon karena sedang berada di kamar mandi, tetapi tak lama teleponnya dimatikan, ketakutan akan pulsa yang habis jika dipakai menelpon hanya untuk mendengar ucap serapah. Dia mencoba menelpon kembali mantannya berkali-kali, ternyata mantannya menolak teleponnya sesering dia melakukan panggilan keluar.
Sejak itu dia memutuskan untuk menghapus semua kontak mantannya dan memblokir semua sosial medianya.

Dan dia telah menyiapkan sebuah harapan yang dibuatnya sendiri.
Nanti jika mantannya menghubungi timbulah percakapan ini:

“maaf nomer siapa ini?”

Dan beberapa hari telah terlewati.
Tidak ada nomer yang dia kenali menghubunginya.

_
Itulah akhir hubungan dia dengan kekasih keduanya.

Indah Tak Tergapai

Mengenalnya bagai mendulang udara di ruang hampa, menukarnya dengan duniapun tak setara. Itu kata-kata yang pernah saya baca dan saya ujarkan tertuju untuknya. Dia laki-laki berprofesi design graphis di salah satu digital advertising di dekat kediaman saya dengan karir yang sangat cerah, dia menarik, dia cerdas, dia hebat  dan yang terpenting dia cerminan kebaikan dalam diri saya. Kepala, pemikiran, bahkan kebiasaan sebelum tidur pun kita serupa.

Segala hal terlihat mudah jika di dekatnya. Kami banyak menghabiskan waktu bersama untuk berbincang  terutama, kamipun sangat nyaman serta cocok satu sama lain, pada awalnya.


Dia sosok tanpa cela di mata saya.  Dia sempurna bahkan hal-hal kecil seperti kacamatanya, ya saya sangat menyukai kaca matanya, bahkan sarung mukanya. Sampai akhirnya kadar tahu dan sadar diri saya harus lebih besar dari rasa kagum saya padanya. Mungkin dengan dia menjauhi saya adalah benar adanya, karena apalah arti rumput teki di hadapan beringin tinggi.

Raganya Pindah Berulang Hatinya Tinggal

Cerita tentang seseorang yang menemukan rumah dalam mencari uang tetapi diputuskerjakan secara tiba-tiba. Banyak mencari tetapi tidak sedikit pula tawaran yang datang tetapi dirasa belum lagi sama.

Mungkin kerjaan itu seperti jodoh. Sekali bertemu yang cocok, kita akan selalu pakai itu sebagai patokan dalam mencari jodoh yang lain. Apalagi jika putusnya tidak baik-baik, pasti akan kebawa dan teringat terus. Pekerjaan juga sebenernya bagian dari identitas, saat sudah menemukan pekerjaan yang sesuai, dengan sendirinya jiwa kita bisa berkembang dan mendapatkan habitatnya di mana kita bisa terus tumbuh di sana. Nah sekarang kita dicabut dari tempat kita, sulit rasanya untuk kembali mencari tempat berakar lagi. But life's need to keep rolling.. dalam perjalanan waktu, harusnya luka itu terobati. Kita mau tidak mau harus sembuh dan kenangan yang terakhir dijadikan motivasi untuk tidak sekadar menemukan tempat kerja yang sama, tapi menciptakan suasana yang sama, contohnya dengan membawa keceriaan dan komunikasi yang menyenangkan dan menenagkan ke tempat yang baru sekarang.

Kau Tak Boleh Lebih Kecil dari Traumamu

Tentang Bawang Merah.
Saudara bukan tiri tetapi keji. Memar, lebam dan kadang berdarah. Marah, luka, sedih dan sakit hati.

Tentang Seragam Sekolah.
Seragamnya tak setebal milik kawan-kawannya. Jika tak sengaja tertepuk pundak oleh kawannya jahitan pada lengannya pun ikut terlepas. Di bagian bawah seragam lainnya pun bolong-bolong tak sengaja tersangkut jaring-jaring sepeda. Uang saku tak cukup untuk dipakai naik ojek pangkalan, berjalan berkilo-kilo dari rumah dengan seragam lusuh kering, basah dan kering lagi di badan. Seragamnya sempit begitu pun dengan roknya. Merengek pun tiada guna. Dipakainya hingga lulus ke jenjang berikutnya.

Tentang Sepeda Motor.
Dibelikan untuk dipakai. Giat belajar agar lancar. Selang beberapa hari tiba-tiba dijual.

Tentang Beasiswa.
Satu lembar lima puluh ribu yang dicuri menentukan segala. Beasiswa terlanjur dibayarkan. Beasiswa semester ke lima tak jadi dimilikinya. Beasiswa S2 nya termiliki sahabat terbaiknya, dia yang merekomendasikannya dia yang tersingkirkannya pula.

Tentang Pendingin Ruangan.
Malam itu masih tertidur menggunakan pendingin ruangan yang dikombinasikan dengan kipas angin. Tidak dingin betul memang, tetapi terpakai. Remote disembunyikan karena takut besar nominal ketika membayar iuran listrik bulanan. Keesokan harinya pendingin ruangan sudah tidak pada tempatnya.

Tentang Teman-Teman di Sekitar Rumah.
Hanya karena berbeda lantas mereka menjauhinya.